Ka’ab bin Malik RA adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang
tidak ikut berperang dalam Perang Tabuk. Penyebabnya, karena terlena dengan
urusan dunia yang menjadikannya tertinggal dan tidak ikut berperang bersama
Nabi SAW. Ketika perang selesai dan berita kepulangan Nabi SAW tersiar, Ka’ab
dihantui kerisauan.
Terbetik dalam dirinya untuk berbohong, agar terhindar dari
kemarahan Rasulullah SAW. Namun, ia tak berani berbohong. Ia membulatkan tekad
untuk berkata jujur. Setelah Nabi SAW tiba, Ka’ab segera menghadap Nabi SAW.
Beliau tersenyum hambar sambil memalingkan wajahnya yang mulia.
Ka’ab berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah berpaling
dari saya. Demi Allah, saya bukanlah orang munafik dan saya meyakini keimanan
saya. Beliau bersabda, “Kemarilah, mengapa engkau tidak ikut berperang,
bukankah engkau sudah membeli unta sebagai kendaraan?” Ka’ab pun menjawab: “Ya
Rasulullah, kalau kepada orang lain sudah tentu saya dapat memberikan berbagai
alasan agar ia tidak marah, karena Allah telah mengaruniakan kepada saya
kepandaian berbicara. Tetapi kepada engkau, walaupun saya dapat memberikan
keterangan dusta yang dapat memuaskan hatimu, sudah tentu Allah akan murka
kepadaku.”
Ka’ab menambahkan, “Sebaliknya jika saya berkata jujur
sehingga engkau marah, saya yakin Allah akan menghilangkan kemarahan engkau.
Maka, saya akan berkata dengan sejujurnya. “Demi Allah, saya tidak memiliki
halangan apa pun. Seperti halnya orang lain, saya berada dalam keadaan lapang
dan bebas. Bahkan, pada saat ini saya memiliki kesempatan yang lebih baik
daripada masa-masa sebelumnya.”
Rasulullah SAW bersabda: “Engkau telah berkata jujur,
berdirilah, Allah akan memutuskan segala urusanmu.” Setelah itu, Ka’ab
meninggalkan Nabi SAW dan pulang ke rumahnya. Dalam masa penantian menunggu
keputusan Allah SWT, Ka’ab dilarang berbicara pada siapa pun dan ia juga
diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Orang-orang pun menjauhinya dan
mengucilkannya seakan-akan dunia menolaknya. Bukan hanya itu, saudaranya pun
tidak mau berbicara kepadanya dan bahkan ada orang yang mengajaknya keluar dari
agama Islam. Semua ini menjadikan Ka’ab sangat bersedih.
Pada hari yang ke-50, kabar gembira pun datang kepadanya,
bahwa Allah menerima tobat Ka’ab dan dua sahabatnya. Dengan hati gembira Ka’ab
datang menghadap Nabi SAW. Beliau bersabda, “Bergembiralah dengan meraih saat
yang penuh kebaikan, yang belum pernah kau lalui sejak engkau dilahirkan
ibumu.” Sebagai rasa syukur Ka’ab pun menyedekahkan sebagian hartanya dan ia
berkata, “Ya Rasulullah, Allah sungguh telah menyelamatkan diriku dengan
kejujuran, maka sebagai bagian dari pertobatanku, aku tidak akan berbicara
kecuali dengan kejujuran selama sisa hidupku.”
